nav-left cat-right
cat-right

Ebook Gratis: Kitab Ihya Ulumuddin Dalam Pandangan Ulama

Ebook Gratis: Kitab Ihya Ulumuddin Dalam Pandangan Ulama

Kitab Ihya Ulumuddin Dalam Pandangan Ulama

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya serta memohon ampunan-Nya dan kami berlindung dari keburukan diri-diri kami dan dari kejelekan-kejelekan amal kami. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesem-bahan yang berhak disembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya.

Amma ba’du.

Ini adalah risalah yang lembut isinya dan tiada bandingannya, Insya Allah. Yang saya kumpulkan di dalamnya beberapa perkataan para ahli ilmu yang terdiri dari para imam1 para ulama dan para ahli sejarah seputar kitab yang telah diketahui oleh khalayak umum, cendekiawan, ulama dan orang-orang jahil/ (bodoh), yaitu kitab Ihya ‘Ulumuddin karangan Syaikh Abu Hamid Al Ghazali yang wafat pada tahun 505 H semoga Allah merahmatinya dan memaafkan kesalahan-kesalahannya.

Perkataan-perkataan yang saya kumpulkan dan nukilan-nukilan yang saya cantumkan ini semuanya berkisar tentang koreksian (terhadap Kitab tersebut).

Adapun tentang pujian terhadap kitab tersebut, para penulis lain yang dahulu maupun yang sekarang telah menunaikannya. Dahulu Syaikh Abdul Qadir Al ‘Aidrus telah menulis kitab yang terkenal yaitu Ta’riful Ahya’ bi Fadla-il Ihya’.

Pada masa sekarang banyak orang yang memuji dan menyanjungnya seperti Syaikh Sa’id Hawwa. la menyarankan untuk mempelajarinya (Afaq At Ta’lim hal. 77) dan juga menganggapnya sebagai bagian dari ilmu akhlaq Islami (Jundullah hal. 119) dan lain sebagainya. Ini semua sebagai penguat perkataan Syaikh Hasan Al Banna dalam menerangkan cara “da’wahnya” yang bernafaskan sufi.

Sa’id Hawwa bukanlah orang yang per-tama kali yang berkomentar tentang kitab Ihya’ dan beliau hanya taqlid kepada Syaikh Hasan Al Banna semoga Allah merahmatinya. Beliau mempelajarinya setelah mengikuti perkumpulan tarekat Al Hashafiyah As Sufiyah (Mudzakkirat Ad Da’wah hal. 29) sehingga berpengaruh pada perilaku dan kepribadinya (Mudzakkirat hal. 32).

Sa’id Hawwa telah memandang Kitab Ihya sebagai ensiklopedi Islam yang terbesar dan salah  satu   harapannya  adalah  tersedianya   kesempatan   untuk  men-syarah-kan (menjelaskan) Kitab tersebut. Tidak lama kemudian beliau pun segera melaksanakan rencana tersebut, yaitu ketika beliau menyiapkan pelajaran mingguan di rumahnya untuk sekumpulan sahabatnya. Beliau sangat bersemangat dalam menulis setiap pelajaran yang akan beliau sampaikan dan ini tidak pernah dilakukan pada pelajaran-pelajaran yang lainnya. Akan tetapi keadaanlah yang menghalangi penyempurnaan syarah kitab tersebut (Al Ikhwanul Muslimun: Ahdats jilid 1 hal. 61 dan jilid 2 hal 347).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allah merahmatinya, telah mengumpulkan pujian dan celaan terhadap Kitab ini. Ketika ditanya tentang kitab Ihya Ulumuddin dan Quutul Qulub beliau menguraikan tentang keduanya di dalam suatu uraian ilmiah yang memikat dan sudah sepantasnyalah bagi saya untuk menukilnya secara utuh2 sebagaimana tercantum dalam Majmu’ul Fatawa (jilid 10 hal. 55). Beliau berkata:

Adapun kitab Quutul Qulub dan kitab Al Ihya keduanya sama-sama menyebutkan tentang amalan-amalan hati seperti: sabar, syukur, cinta, tawakal, tauhid dan yang semisalnya.

Abu Thalib3 lebih mengetahui dari pada Abu Hamid Al Ghazali tentang hadits, atsar, ucapan ahli ilmu sufi dan lainnya. Perkataannya lebih baik dan lebih dapat direalisasikan serta lebih jauh dari bid’ah meskipun di dalam kitab Quutul Qulub terdapat hadits-hadits yang dla’if (lemah) dan maudlu’ (palsu) serta banyak hal-hal yang

tertolak.

Adapun pernyataan yang ada dalam Al Ihya tentang hal-hal yang membinasakan seseorang seperti sombong, ujub (bangga diri), riya’, iri dan semisalnya banyak menukil dari Al Harits Al Muhasibi di dalam (kitab) Ar Ri’aayah yang di antara isinya ada yang diterima, ada yang ditolak dan ada pula yang masih dipertentangkan (oleh para ulama).

Di dalam Al Ihya terdapat faedah yang banyak, akan tetapi di dalamnya juga terdapat hal-hal yang tercela yang berasal dari ucapan para ahli filsafat yang berkaitan dengan tauhid (ke-esaan Allah, nubuwwah (kenabian) dan ma’aad (akhirat).

Apabila ia menyebutkan hal-hal yang ber-kenaan dengan kesufian, pada hakekatnya dia menyiapkan musuh bagi kaum muslimin dan menutupinnya dengan baju muslim.

para imam telah mengingkari Abu Hamid (Al Ghazali) di dalam kitab-kitab mereka dan merekapun berkata, “Yang membuat dia sakit adalah (Kitab) Asy-syifa4 yaitu (kitab) Asy-Syifa (karya) Ibnu Sina dalam ilmu filsafat.

Di dalamnya (kitab Ihya) terdapat banyak hadits, atsar yang lemah bahkan palsu dan di dalamnya terdapat kekeliruan-kekeliruan sufi dan kesesatan-kesesatannya.

Bersamaan dengan itu di dalamnya juga terdapat perkataan para syaikh sufi yang arif dan lurus dalam amalan-amalan hati yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah. Selain itu juga terdapat ibadah-ibadah dan adab yang sesuai dengan Al Quran dan As sunnah dan dalam masalah ini lebih banyak yang diterima daripada yang ditolak.

Oleh karena itulah orang-orang berselisih dalam mengomentari tentang kitab tersebut. Selesai ucapannya (Ibnu Taimiyah) semoga Allah merahmatinya.

Tidak ada yang memotivasi saya untuk mengumpulkan risalah ini melainkan (dalam rangka) nasihat untuk Allah, rasul-Nya dan kaum muslimin. Dan keinginan untuk mengoreksi serta menilai arah dari beberapa pemikiran dan aliran khususnya setelah tersebarnya kejahilan (kebodohan) terhadap ilmu-ilmu syar’i dan demi Allah itu adalah salah satu musibah yang besar.

Akhirnya, saya memohon kepada Allah yang Maha Tinggi dan bertawasul kepada-Nya dengan kecintaanku kepada nabi-Nya shallallahu dlaihi wa sallam agar menetapkan balasan pahala bagiku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Dan penutup do’a saya segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta.

Ditulis oleh:

Abul Harits Ali bin Hasan bin Ali

File chm


1 Jika dikumpulkan semuanya tentu menyulitkan penulis, akan tetapi mudah-mudahan apa yang penulis ungkapkan sudah cukup bagi orang yang ingin mengetahuinya

2 Nukilan perkataan beliau yang lain akan dijelaskan lebih lanjut

3 Al-Makki, penulis kitab Quutul Quluub dan Kitab ini termasuk terbitan yang terkenal

4 Perkataan ini terdapat di dalam kitab-kitab mantiq, sebagaimana tertulis dalam Kasyfudz Dzunnun jilid II hal. 1055. Lihat juga perkataan Syaikhul Islam seputar masalah ini dalam Majmu Fatawa jilid 13 hal. 238

Share
468 ad

Leave a Reply